September Ceria

Posted: 5 September 2012 in dunia sosiologi

September ceria..

September ceria.. Milik kita bersama…

demikian penggalan lirik lagu yang dipoulerkan oleh maestro diva Indonesia Vina Panduwinata yang menjadi sangat populer bagi masyarakat Indonesia setiap kali memasuki bulan September. Ya, dengan harapan di bulan September ini bisa menjadi bulan yang bisa menceriakan suasana hati bagi semuanya.

September

adalah bulan kesembilan tahun dalam Kalender Gregorian. Kata ini diambil dari Bahasa Belanda yang mengambil dari bahasa Latin; septem yang berarti “tujuh” karena dahulu kala tahun bermula pada bulan Maret, kemudiannya ditukar pada 153 SM. Bulan ini memiliki 30 hari.

Bulan September tidak ubahnya seperti bulan-bulan lain yang ada di kalender Masehi yang memiliki 24 jam dalam sehari, 2 hari dalam seminggu dan +/- 30 hari dalam satu bulan. Lalu apa yang menarik di bulan September ini? Ada beberapa peristiwa yang bisa kita ingat dan kenang pada bulan September ini sesuai dengan nilai heroik dan sejarahnya, beberapa diantaranya adalah:

Gerakan 30 September atau yang sering disingkat G 30 S PKI, G-30S/PKI, Gestapu (Gerakan September Tiga Puluh), Gestok (Gerakan Satu Oktober) adalah sebuah peristiwa yang terjadi selewat malam tanggal 30 September sampai di awal 1 Oktober 1965 di mana enam perwira tinggi militer Indonesia beserta beberapa orang lainnya dibunuh dalam suatu usaha percobaan kudeta yang kemudian dituduhkan kepada anggota Partai Komunis Indonesia.

 

September dan terorisme

Delapan tahun lalu, tepatnya tanggal 11 September 2001, menara Kembar World Trade Center runtuh karena aksi bunuh diri teroris dengan menabrakan dua pesawat komersil yang di bajak. Tak berapa lama kemudian, sebagian gedung Pentagon juga di hantam pesawat dan kemudian peristiwa hari itu di tutup dengan jatuhnya pesawat United Airlines penerbangan 93 yang jatuh di Pennsylvania. Semua mata dunia saat itu tertuju pada peristiwa yang tidak pernah di bayangkan siapapun juga. Korban tak bersalah berjatuhan. Sejak peristiwa itu, dunia di perhadapkan dengan musuh bersama yaitu terorisme yang menjadi fenomena global.

Di dalam negeri, pada hari kamis dinihari, 17 September 2009, buronan teroris asal Malaysia, Noordin M Top, akhirnya tewas dalam penyergapan tim polisi antiteror di Solo, Jawa Tengah. Dalam keterangannya, Kepala Kepolisian RI, Jenderal (Pol) Bambang Hendarso Danuri menyatakan bahwa Noordin di pastikan tewas. Identitas Noordin di simpulkan melalui identifikasi sidik jari dan tes DNA keluarganya. Kematian Noordin akhirnya menjadi perhatian masyarakat kita dan juga dunia internasional. Harap di maklumi, Noordin adalah orang yang di anggap paling bertanggungjawab atas serangkaian aksi teror besar seperti Bom Bali I ( Oktober 2002), Bom JW Marriot (Agustus 2003), Kedubes Australia (September 2004), Bom Bali II (Oktober 2005) dan Bom JW Marriot dan Ritz- Carlton (Juli 2009). Matinya Noordin apakah berakhirnya terorisme di negara ini? mengikuti perkembangan pemberantasan terorisme, justru kematian Noordin adalah babak baru peperangan dengan terorisme karena Noordin mampu menciptakan kelompok sel-sel kecil sebagai pengikutnya. Inilah tugas berat Kepolisian karena harus memberantas sampai ke akar-akarnya. Tapi kita tentunya berharap, tugas berat itu dapat di jalankan, dan Kepolisian dalam hal ini Tim Densus 88 telah menunjukan profesionalitasnya. September meninggalkan kematian Noordin dan peristiwa pengeboman WTC untuk kita, tetapi bukan kematian aksi terorisme. Kewaspadaan tentu saja harus terus di tingkatkan. Upaya pemerintah dan dunia untuk terus memerangi terorisme harus terus kita dukung.

 

September dan Hak Asasi Manusia (HAM)

Koordinator Kontras, Usman Hamid pernah menyatakan bahwa September dapat di katakan sebagai Bulan Hak Asasi Manusia. Saya juga sepakat dengan apa yang dikatakan oleh Usman Hamid. Sejarah mencatat, banyak peristiwa pelanggaran HAM yang sampai sekarang belum mendapat jawaban titik terangnya. Pada tanggal 7 september 2004, aktivis pejuang dan pembela HAM, Munir dibunuh dalam penerbangannya ke Belanda. Sampai sekarang kejelasan tentang siapa dalang pembunuh Munir, masih penuh tanda tanya. Pada tanggal 12 September 1984, Amir Biki tewas dalam tragedi Tanjung Priok. Siapa yang menghilangkan nyawa Amir, sampai sekarang pun negara seperti menutup mata dengan peristiwa yang terjadi 25 tahun lalu itu. Pada hari Jumat, 22 September 2006, Fabianus Tibo, Dominggus da Silva dan Marianus Riwu tewas di tembak dalam pelaksanaan eksekusi hukuman mati di Palu, Sulawesi Tengah. Ketiga martir dari poso itu menjadi tumbal kekerasan kemanusiaan. Sampai sekarang, mereka yang di sebut sebagai aktor intelektual kerusuhan Poso, tidak pernah terungkap. Pada tanggal 24 September 1999, Yap Yun Hap, mahasiswa Universitas Indonesia, tewas di terjang peluru aparat dalam aksi penolakan pemberlakuan Undang-Undang Penanggulangan Keadaan Bahaya. Kita juga tidak melupakan tanggal 30 September 1965 sebagai sejarah gelap bangsa ini. G-30S/PKI adalah kekaburan sejarah yang kita tidak pernah tahu kebenarannya. Bulan September adalah bulan penuh air mata, bulan penuh kenangan duka. Bagi korban pelanggaran HAM, bulan September adalah ingatan tentang kehilangan, tentang tumpukan pertanyaan, mengapa mereka dibunuh dan hingga kini, tidak ada yang bertanggung jawab atas kematian mereka.
September dan Hak Asasi Manusia (HAM)

Koordinator Kontras, Usman Hamid pernah menyatakan bahwa September dapat di katakan sebagai Bulan Hak Asasi Manusia. Saya juga sepakat dengan apa yang dikatakan oleh Usman Hamid. Sejarah mencatat, banyak peristiwa pelanggaran HAM yang sampai sekarang belum mendapat jawaban titik terangnya. Pada tanggal 7 september 2004, aktivis pejuang dan pembela HAM, Munir dibunuh dalam penerbangannya ke Belanda. Sampai sekarang kejelasan tentang siapa dalang pembunuh Munir, masih penuh tanda tanya. Pada tanggal 12 September 1984, Amir Biki tewas dalam tragedi Tanjung Priok. Siapa yang menghilangkan nyawa Amir, sampai sekarang pun negara seperti menutup mata dengan peristiwa yang terjadi 25 tahun lalu itu.

Pada hari Jumat, 22 September 2006, Fabianus Tibo, Dominggus da Silva dan Marianus Riwu tewas di tembak dalam pelaksanaan eksekusi hukuman mati di Palu, Sulawesi Tengah. Ketiga martir dari poso itu menjadi tumbal kekerasan kemanusiaan. Sampai sekarang, mereka yang di sebut sebagai aktor intelektual kerusuhan Poso, tidak pernah terungkap. Pada tanggal 24 September 1999, Yap Yun Hap, mahasiswa Universitas Indonesia, tewas di terjang peluru aparat dalam aksi penolakan pemberlakuan Undang-Undang Penanggulangan Keadaan Bahaya. Kita juga tidak melupakan tanggal 30 September 1965 sebagai sejarah gelap bangsa ini. G-30S/PKI adalah kekaburan sejarah yang kita tidak pernah tahu kebenarannya. Bulan September adalah bulan penuh air mata, bulan penuh kenangan duka. Bagi korban pelanggaran HAM, bulan September adalah ingatan tentang kehilangan, tentang tumpukan pertanyaan, mengapa mereka dibunuh dan hingga kini, tidak ada yang bertanggung jawab atas kematian mereka.

September dan dunia internasional

Bulan September juga menghadirkan banyak peristiwa yang mengubah dan mengguncang dunia internasional. Selain perisitiwa serangan teroris 11 September 2001 (WTC), sejarah juga mencatat beberapa peristiwa penting selama bulan September. Pada tahun lalu, tepatnya tanggal 15 September 2008, sejarah mencatat sebagai runtuhnya bank investasi raksasa Amerika Serikat, Lehman Brothers. Kebangkrutan Lehman adalah krisis terbesar dalam sejarah perbankan AS. Imbasnya bukan saja di AS, tetapi ikut mempengaruhi perekonomian dunia.

Salah satu peristiwa lainnya adalah Sidang Umum PPB pada hari Rabu, 23 September 2009 di New York, AS. Sidang yang dihadiri para pemimpin dunia dan diplomat dari 192 negara anggota PBB tahun itu, meninggalkan kesan yang heboh. Ketika pemimpin Libya, Moammar Khadafy sedang berpidato, delegasi Israel meninggalkan ruang sidang.Hal ini di karenakan usulan Khadafy memberi solusi gila masalah Israel-Palestina dengan membentuk negara bernama Isratina, yakni gabungan Israel-Palestina sebagai satu negara berdaulat. Tindakan heboh dan kontroversial Khadafy di lanjutkan dengan merobek salinan Piagam PBB serta mengatakan Dewan Keamanan PBB sebagai “dewan teror” dan mengusulkan agar sekretariat DK PBB di pindahkan ke Libya. Selain itu, di saat presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad berpidato, utusan Amerika Serikat, Kanada dan sebagian Negara lainnya juga keluar dari ruang sidang. Di bulan September ini juga kita mencatat keikutsertaan Indonesia dalam KTT G-20 di Pittsburgh, AS. Pertemuan kelompok G-20 yang semula hanya forum para menteri keuangan dan gubernur bank sentral, menghasilkan kesepakatan untuk mendudukan G-20 sebagai pengganti fungsi dan peran G-8 selaku forum kerja sama utama ekonomi global.

 

Beberapa tanggal penting di bulan September:

 

 

sumber:

http://id.wikipedia.org/wiki/September

http://www.kulinet.com/baca/september/912/

http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_hari_penting_di_Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s