Archive for the ‘dunia sosiologi’ Category

Latar Belakang Sumpah Pemuda

Posted: 28 Oktober 2012 in dunia sosiologi

Sumpah Pemuda
Dari Wikipedia bahasa Indonesia.

Sumpah Pemuda merupakan bukti otentik bahwa pada tanggal 28 oktober 1928 Bangsa Indonesia dilahirkan, oleh karena itu seharusnya seluruh rakyat Indonesia memperingati momentum 28 oktober sebagai hari lahirnya bangsa Indonesia, proses kelahiran Bangsa Indonesia ini merupakan buah dari perjuangan rakyat yang selama ratusan tahun tertindas dibawah kekuasaan kaum kolonialis pada saat itu, kondisi ketertindasan inilah yang kemudia mendorong para pemuda pada saat itu untuk membulatkan tekad demi Mengangkat Harkat dan Martabat Hidup Orang Indonesia Asli, tekad inilah yang menjadi komitmen perjuangan rakyat Indonesia hingga berhasil mencapai kemerdekaannya 17 tahun kemudian yaitu pada 17 Agustus 1945.

Rumusan Sumpah Pemuda ditulis Moehammad Yamin pada sebuah kertas ketika Mr. Sunario, sebagai utusan kepanduan tengah berpidato pada sesi terakhir kongres. Sumpah tersebut awalnya dibacakan oleh Soegondo dan kemudian dijelaskan panjang-lebar oleh Yamin.

 

Isi Sumpah Pemuda

Sumpah Pemuda versi orisinal:

Pertama
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
Kedoea
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Ketiga
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Sumpah Pemuda versi Ejaan Yang Disempurnakan

Pertama
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.
Kedua
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
Ketiga
Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

 

Kongres Pemuda Indonesia Kedua

Gagasan penyelenggaraan Kongres Pemuda Kedua berasal dari Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI), sebuah organisasi pemuda yang beranggota pelajar dari seluruh Indonesia. Atas inisiatif PPPI, kongres dilaksanakan di tiga gedung yang berbeda dan dibagi dalam tiga kali rapat

Rapat pertama, Sabtu, 27 Oktober 1928, di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB), Waterlooplein (sekarang Lapangan Banteng). Dalam sambutannya, ketua PPPI Sugondo Djojopuspito berharap kongres ini dapat memperkuat semangat persatuan dalam sanubari para pemuda. Acara dilanjutkan dengan uraian Moehammad Yamin tentang arti dan hubungan persatuan dengan pemuda. Menurutnya, ada lima faktor yang bisa memperkuat persatuan Indonesia yaitu sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan

Rapat kedua, Minggu, 28 Oktober 1928, di Gedung Oost-Java Bioscoop, membahas masalah pendidikan. Kedua pembicara, Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro, berpendapat bahwa anak harus mendapat pendidikan kebangsaan, harus pula ada keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Anak juga harus dididik secara demokratis.

Pada rapat penutup, di gedung Indonesische Clubgebouw di Jalan Kramat Raya 106, Sunario menjelaskan pentingnya nasionalisme dan demokrasi selain gerakan kepanduan. Sedangkan Ramelan mengemukakan, gerakan kepanduan tidak bisa dipisahkan dari pergerakan nasional. Gerakan kepanduan sejak dini mendidik anak-anak disiplin dan mandiri, hal-hal yang dibutuhkan dalam perjuangan.

 

Peserta

Para peserta Kongres Pemuda II ini berasal dari berbagai wakil organisasi pemuda yang ada pada waktu itu, seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Sekar Rukun, PPPI, Pemuda Kaum Betawi, dll. Di antara mereka hadir pula beberapa orang pemuda Tionghoa sebagai pengamat, yaitu Oey Kay Siang, John Lauw Tjoan Hok dan Tjio Djien Kwie namun sampai saat ini tidak diketahui latar belakang organisasi yang mengutus mereka. Sementara Kwee Thiam Hiong hadir sebagai seorang wakil dari Jong Sumatranen Bond. Diprakarsai oleh AR Baswedan pemuda keturunan arab di Indonesia mengadakan kongres di Semarang dan mengumandangkan Sumpah Pemuda Keturunan Arab.

71 Pengikrar Sumpah Pemuda

Berikut adalah beberapa orang yang mengikrarkan Sumpah Pemuda :
* Sugondo Djojopuspito
* Poernomowoelan
* Sarmidi Mangoensarkoro
* Moehammad Yamin
* Sunario

Johanna Masdani Tumbuan

Johanna Masdani Tumbuan termasuk di antara 71 pemuda yang hadir dalam Kongres Pemuda Kedua, Oktober 1928 dan turut serta mengikrarkan Sumpah Pemuda yang berlangsung di sebuah gedung yang terletak di Jalan Kramat Raya no. 106 Jakarta Pusat.

Selain itu, Jo — demikian ia biasa dipanggil — juga menjadi seorang saksi sejarah detik-detik Proklamasi Indonesia yang dilakukan oleh Bung Karno dan Bung Hatta pada 17 Agustus 1945. Johanna Masdani Tumbuan juga ikut serta menyusun konsep pembangunan Tugu Proklamasi yang sederhana di depan rumah Bung Karno di Jl. Pegangsaan Timur (kini Jl. Proklamasi) no. 56, Jakarta. Tugu ini kemudian dibongkar oleh Bung Karno, namun dibangun kembali pada tahun 1980-an. Baca juga pada Sejarah Perjuangan Pemuda Indonesia dan Sumpah Pemuda oleh David DS Lumoindong.

 

Gedung

sumber:

kaskus.co.id

wikipedia

Iklan

Indonesia dan Batik.. (^_^)

Posted: 2 Oktober 2012 in dunia sosiologi

Batik dan Indonesia seolah tidak bisa dipisahkan. Batik ada karena budaya masyarakat Indonesia, begitu pula Indonesia yang cukup dikenal dunia dengan ciri khas batiknya yang tidak ada duanya di dunia.

Batik adalah salah satu cara pembuatan bahan pakaian. Selain itu batik bisa mengacu pada dua hal. Yang pertama adalah teknik pewarnaan kain dengan menggunakan malam untuk mencegah pewarnaan sebagian dari kain. Dalam literatur internasional, teknik ini dikenal sebagai wax-resist dyeing. Pengertian kedua adalah kain atau busana yang dibuat dengan teknik tersebut, termasuk penggunaan motif-motif tertentu yang memiliki kekhasan. Batik Indonesia, sebagai keseluruhan teknik, teknologi, serta pengembangan motif dan budaya yang terkait, oleh UNESCO telah ditetapkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) sejak 2 Oktober, 2009.

Oleh karena itu mengapa pada setiap tanggal 2 Oktober diperingati sebagai Hari Batik Nasional.

Tepat tiga tahun yang lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mencanangkan 2 Oktober sebagai Hari Batik. Tepat tiga tahun yang lalu juga, dunia mengakui batik sebagai hak milik Indonesia.

SBY mencanangkan 2 Oktober sebagai hari batik kala mengunjungi masyarakat korban gempa Padang Pariaman, di Balaikota Pariaman, Sumatera Barat, Jumat (2/10/2009).

SBY menuturkan bahwa dunia, melalui United Nations Educational, Scientific, and Culture Organization (UNESCO) juga sudah mengakui batik sebagai milik Indonesia. Penghargaan juga langsung diberikan UNESCO di Abu Dhabi, 2 Oktober tahun lalu.

Pengakuan ini layak diapresiasi sebagai kebanggaan atas kemenangan budaya nasional. Sebab, batik adalah salah satu komoditas yang sudah mulai diproduksi oleh negara tetangga, Malausia.

Dalam kesempatan tersebut SBY pun mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk tidak melupakan batik dan memakai batik tiap tanggal 2 Oktober.

“Kalau kita sudah mendapatkan, kita syukuri. Kedua, mari kita lestarikan, paling tidak memakai batik tiap tanggal 2 Oktober,” imbau SBY.(detik com)

 

Secara etimologi, kata “batik” berasal dari gabungan dua kata bahasa Jawa: “amba”, yang bermakna “menulis” dan “titik” yang bermakna “titik“.

Budaya batik

Batik adalah kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia (khususnya Jawa) sejak lama. Tradisi membatik pada mulanya merupakan tradisi yang turun temurun, sehingga kadang kala suatu motif dapat dikenali berasal dari batik keluarga tertentu. Beberapa motif batik dapat menunjukkan status seseorang. Bahkan sampai saat ini, beberapa motif batik tradisional hanya dipakai oleh keluarga keraton Yogyakarta dan Surakarta.

Corak batik

Ragam corak dan warna Batik dipengaruhi oleh berbagai pengaruh asing. Awalnya, batik memiliki ragam corak dan warna yang terbatas, dan beberapa corak hanya boleh dipakai oleh kalangan tertentu. Namun batik pesisir menyerap berbagai pengaruh luar, seperti para pedagang asing dan juga pada akhirnya, para penjajah. Warna-warna cerah seperti merah dipopulerkan oleh Tionghoa, yang juga memopulerkan corak phoenix. Bangsa penjajah Eropa juga mengambil minat kepada batik, dan hasilnya adalah corak bebungaan yang sebelumnya tidak dikenal (seperti bunga tulip) dan juga benda-benda yang dibawa oleh penjajah (gedung atau kereta kuda), termasuk juga warna-warna kesukaan mereka seperti warna biru. Batik tradisonal tetap mempertahankan coraknya, dan masih dipakai dalam upacara-upacara adat, karena biasanya masing-masing corak memiliki perlambangan masing-masing.

Perkembangan batik dewasa ini pun sudah sangat pesat. Pada tahun 1960-an, penggunaan baju batik dilakukan sebagai pakaian resmi non-Barat khas Indonesia. Dan kini, ia tidak hanya dianggap sebagai pakaian resmi atau formal. Bukan pula pakaian orang-orang tuan yang dipakai ketika ada hajatan.

Bukan hanya pakaian ‘resmi’ di kantor setiap hari Jumat. Inovasi demi inovasi, membuat kalangan muda tidak hanya tak malu dengan batik, tetapi juga bangga mengenakannya. Kala memakai batik, ada segenggam kebanggaan terhadap Indonesia di dalamnya.

Identitas. Ya, batik sudah menjadi ciri khas bangsa Indonesia. Dan, para pemakainya juga hendaknya tak pernah melupakan akar budaya kita: kesantunan, keramahan, dan kegotongroyongan di negeri ini. Kerukunan di atas segala perbedaan, seperti halnya beragamnya corak batik. Memakai batik, adalah menjadi Indonesia yang sesungguh-sungguhnya Indonesia.

Jadi, sudahkah anda memakai batik hari ini?

 

sumber:

http://id.wikipedia.org/wiki/Batik

http://sidomi.com

http://www.newoes.com

 

Oktober adalah bulan kesepuluh tahun dalam Kalender Gregorian. Kata ini diambil dari Bahasa Belanda yang mengambil dari bahasa Latin; octo yang berarti “delapan” karena dahulu kala tahun bermula pada bulan Maret. Bulan ini memiliki 31 hari.

Bulan Oktober biasanya disebut juga bulan bahasa. Yang dimaksud tentu bahasa Indonesia. Sebab dibulan inilah Bahasa Indonesia pertama kali dikumandangkan sebagai bahasa nasional dan sekaligus bahasa pemersatu di Republik Indonesia.  Bulan Oktober adalah bulan yang memiliki makna sejarah sangat besar bagi bangsa Indonesia, karena pada tanggal 28 Oktober 1928 telah tercetus sebuah komitmen para pemuda Indonesia yang kita kenal dengan SUMPAH PEMUDA.

Salah satu bunyi butir sumpah yang disepakati para pemuda saat itu adalah

“Menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia”.

Dari sinilah, maka Bulan Oktober dikukuhkan sebagai Bulan Bahasa.

Beberapa tanggal penting di bulan Oktober:

sumber :

http://id.wikipedia.org/wiki/Oktober

http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_hari_penting_di_Indonesia

http://www.eocommunity.com/showthread.php?tid=394

September Ceria

Posted: 5 September 2012 in dunia sosiologi

September ceria..

September ceria.. Milik kita bersama…

demikian penggalan lirik lagu yang dipoulerkan oleh maestro diva Indonesia Vina Panduwinata yang menjadi sangat populer bagi masyarakat Indonesia setiap kali memasuki bulan September. Ya, dengan harapan di bulan September ini bisa menjadi bulan yang bisa menceriakan suasana hati bagi semuanya.

September

adalah bulan kesembilan tahun dalam Kalender Gregorian. Kata ini diambil dari Bahasa Belanda yang mengambil dari bahasa Latin; septem yang berarti “tujuh” karena dahulu kala tahun bermula pada bulan Maret, kemudiannya ditukar pada 153 SM. Bulan ini memiliki 30 hari.

Bulan September tidak ubahnya seperti bulan-bulan lain yang ada di kalender Masehi yang memiliki 24 jam dalam sehari, 2 hari dalam seminggu dan +/- 30 hari dalam satu bulan. Lalu apa yang menarik di bulan September ini? Ada beberapa peristiwa yang bisa kita ingat dan kenang pada bulan September ini sesuai dengan nilai heroik dan sejarahnya, beberapa diantaranya adalah:

Gerakan 30 September atau yang sering disingkat G 30 S PKI, G-30S/PKI, Gestapu (Gerakan September Tiga Puluh), Gestok (Gerakan Satu Oktober) adalah sebuah peristiwa yang terjadi selewat malam tanggal 30 September sampai di awal 1 Oktober 1965 di mana enam perwira tinggi militer Indonesia beserta beberapa orang lainnya dibunuh dalam suatu usaha percobaan kudeta yang kemudian dituduhkan kepada anggota Partai Komunis Indonesia.

 

September dan terorisme

Delapan tahun lalu, tepatnya tanggal 11 September 2001, menara Kembar World Trade Center runtuh karena aksi bunuh diri teroris dengan menabrakan dua pesawat komersil yang di bajak. Tak berapa lama kemudian, sebagian gedung Pentagon juga di hantam pesawat dan kemudian peristiwa hari itu di tutup dengan jatuhnya pesawat United Airlines penerbangan 93 yang jatuh di Pennsylvania. Semua mata dunia saat itu tertuju pada peristiwa yang tidak pernah di bayangkan siapapun juga. Korban tak bersalah berjatuhan. Sejak peristiwa itu, dunia di perhadapkan dengan musuh bersama yaitu terorisme yang menjadi fenomena global.

Di dalam negeri, pada hari kamis dinihari, 17 September 2009, buronan teroris asal Malaysia, Noordin M Top, akhirnya tewas dalam penyergapan tim polisi antiteror di Solo, Jawa Tengah. Dalam keterangannya, Kepala Kepolisian RI, Jenderal (Pol) Bambang Hendarso Danuri menyatakan bahwa Noordin di pastikan tewas. Identitas Noordin di simpulkan melalui identifikasi sidik jari dan tes DNA keluarganya. Kematian Noordin akhirnya menjadi perhatian masyarakat kita dan juga dunia internasional. Harap di maklumi, Noordin adalah orang yang di anggap paling bertanggungjawab atas serangkaian aksi teror besar seperti Bom Bali I ( Oktober 2002), Bom JW Marriot (Agustus 2003), Kedubes Australia (September 2004), Bom Bali II (Oktober 2005) dan Bom JW Marriot dan Ritz- Carlton (Juli 2009). Matinya Noordin apakah berakhirnya terorisme di negara ini? mengikuti perkembangan pemberantasan terorisme, justru kematian Noordin adalah babak baru peperangan dengan terorisme karena Noordin mampu menciptakan kelompok sel-sel kecil sebagai pengikutnya. Inilah tugas berat Kepolisian karena harus memberantas sampai ke akar-akarnya. Tapi kita tentunya berharap, tugas berat itu dapat di jalankan, dan Kepolisian dalam hal ini Tim Densus 88 telah menunjukan profesionalitasnya. September meninggalkan kematian Noordin dan peristiwa pengeboman WTC untuk kita, tetapi bukan kematian aksi terorisme. Kewaspadaan tentu saja harus terus di tingkatkan. Upaya pemerintah dan dunia untuk terus memerangi terorisme harus terus kita dukung.

 

September dan Hak Asasi Manusia (HAM)

Koordinator Kontras, Usman Hamid pernah menyatakan bahwa September dapat di katakan sebagai Bulan Hak Asasi Manusia. Saya juga sepakat dengan apa yang dikatakan oleh Usman Hamid. Sejarah mencatat, banyak peristiwa pelanggaran HAM yang sampai sekarang belum mendapat jawaban titik terangnya. Pada tanggal 7 september 2004, aktivis pejuang dan pembela HAM, Munir dibunuh dalam penerbangannya ke Belanda. Sampai sekarang kejelasan tentang siapa dalang pembunuh Munir, masih penuh tanda tanya. Pada tanggal 12 September 1984, Amir Biki tewas dalam tragedi Tanjung Priok. Siapa yang menghilangkan nyawa Amir, sampai sekarang pun negara seperti menutup mata dengan peristiwa yang terjadi 25 tahun lalu itu. Pada hari Jumat, 22 September 2006, Fabianus Tibo, Dominggus da Silva dan Marianus Riwu tewas di tembak dalam pelaksanaan eksekusi hukuman mati di Palu, Sulawesi Tengah. Ketiga martir dari poso itu menjadi tumbal kekerasan kemanusiaan. Sampai sekarang, mereka yang di sebut sebagai aktor intelektual kerusuhan Poso, tidak pernah terungkap. Pada tanggal 24 September 1999, Yap Yun Hap, mahasiswa Universitas Indonesia, tewas di terjang peluru aparat dalam aksi penolakan pemberlakuan Undang-Undang Penanggulangan Keadaan Bahaya. Kita juga tidak melupakan tanggal 30 September 1965 sebagai sejarah gelap bangsa ini. G-30S/PKI adalah kekaburan sejarah yang kita tidak pernah tahu kebenarannya. Bulan September adalah bulan penuh air mata, bulan penuh kenangan duka. Bagi korban pelanggaran HAM, bulan September adalah ingatan tentang kehilangan, tentang tumpukan pertanyaan, mengapa mereka dibunuh dan hingga kini, tidak ada yang bertanggung jawab atas kematian mereka.
September dan Hak Asasi Manusia (HAM)

Koordinator Kontras, Usman Hamid pernah menyatakan bahwa September dapat di katakan sebagai Bulan Hak Asasi Manusia. Saya juga sepakat dengan apa yang dikatakan oleh Usman Hamid. Sejarah mencatat, banyak peristiwa pelanggaran HAM yang sampai sekarang belum mendapat jawaban titik terangnya. Pada tanggal 7 september 2004, aktivis pejuang dan pembela HAM, Munir dibunuh dalam penerbangannya ke Belanda. Sampai sekarang kejelasan tentang siapa dalang pembunuh Munir, masih penuh tanda tanya. Pada tanggal 12 September 1984, Amir Biki tewas dalam tragedi Tanjung Priok. Siapa yang menghilangkan nyawa Amir, sampai sekarang pun negara seperti menutup mata dengan peristiwa yang terjadi 25 tahun lalu itu.

Pada hari Jumat, 22 September 2006, Fabianus Tibo, Dominggus da Silva dan Marianus Riwu tewas di tembak dalam pelaksanaan eksekusi hukuman mati di Palu, Sulawesi Tengah. Ketiga martir dari poso itu menjadi tumbal kekerasan kemanusiaan. Sampai sekarang, mereka yang di sebut sebagai aktor intelektual kerusuhan Poso, tidak pernah terungkap. Pada tanggal 24 September 1999, Yap Yun Hap, mahasiswa Universitas Indonesia, tewas di terjang peluru aparat dalam aksi penolakan pemberlakuan Undang-Undang Penanggulangan Keadaan Bahaya. Kita juga tidak melupakan tanggal 30 September 1965 sebagai sejarah gelap bangsa ini. G-30S/PKI adalah kekaburan sejarah yang kita tidak pernah tahu kebenarannya. Bulan September adalah bulan penuh air mata, bulan penuh kenangan duka. Bagi korban pelanggaran HAM, bulan September adalah ingatan tentang kehilangan, tentang tumpukan pertanyaan, mengapa mereka dibunuh dan hingga kini, tidak ada yang bertanggung jawab atas kematian mereka.

September dan dunia internasional

Bulan September juga menghadirkan banyak peristiwa yang mengubah dan mengguncang dunia internasional. Selain perisitiwa serangan teroris 11 September 2001 (WTC), sejarah juga mencatat beberapa peristiwa penting selama bulan September. Pada tahun lalu, tepatnya tanggal 15 September 2008, sejarah mencatat sebagai runtuhnya bank investasi raksasa Amerika Serikat, Lehman Brothers. Kebangkrutan Lehman adalah krisis terbesar dalam sejarah perbankan AS. Imbasnya bukan saja di AS, tetapi ikut mempengaruhi perekonomian dunia.

Salah satu peristiwa lainnya adalah Sidang Umum PPB pada hari Rabu, 23 September 2009 di New York, AS. Sidang yang dihadiri para pemimpin dunia dan diplomat dari 192 negara anggota PBB tahun itu, meninggalkan kesan yang heboh. Ketika pemimpin Libya, Moammar Khadafy sedang berpidato, delegasi Israel meninggalkan ruang sidang.Hal ini di karenakan usulan Khadafy memberi solusi gila masalah Israel-Palestina dengan membentuk negara bernama Isratina, yakni gabungan Israel-Palestina sebagai satu negara berdaulat. Tindakan heboh dan kontroversial Khadafy di lanjutkan dengan merobek salinan Piagam PBB serta mengatakan Dewan Keamanan PBB sebagai “dewan teror” dan mengusulkan agar sekretariat DK PBB di pindahkan ke Libya. Selain itu, di saat presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad berpidato, utusan Amerika Serikat, Kanada dan sebagian Negara lainnya juga keluar dari ruang sidang. Di bulan September ini juga kita mencatat keikutsertaan Indonesia dalam KTT G-20 di Pittsburgh, AS. Pertemuan kelompok G-20 yang semula hanya forum para menteri keuangan dan gubernur bank sentral, menghasilkan kesepakatan untuk mendudukan G-20 sebagai pengganti fungsi dan peran G-8 selaku forum kerja sama utama ekonomi global.

 

Beberapa tanggal penting di bulan September:

 

 

sumber:

http://id.wikipedia.org/wiki/September

http://www.kulinet.com/baca/september/912/

http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_hari_penting_di_Indonesia

Bulan Ramadhan hanya tinggal menghitung hari, dan tidak terasa kita sebagai umat muslim akan kembali mendapat kewajiban untuk melaksanakan rukun islam yang ke empat yakni puasa di  bulan Ramadhan. Dan menjelang bulan suci ,banyak sekali tradisi yang dilakukan untuk menyambut bulan penuh berkah tersebut. Apalagi di Indonesia yang dikenal sebagai negeri sejuta budaya, beraneka ragam suku dan kebudayaan membuat Indonesia mempunyai berbagai macam cara dalam menyambut bulan penuh berkah. Berikut beberapa tradisi yang dilakukan oleh masyarakat di Indonesia:

1. Padusan

Padusan adalah proses dimana dilakukan pembersihan diri menjelang puasa kurang 1 (satu) hari,pembersihan diri biasa dilakukan dengan cara mandi besar karena padusan adalah berasal dari kata dasar adus (dalam bahasa jawa) yang artinya mandi

1311745807507265284

 

2. Ziarah Kubur

“ Dulu aku melarang kalian melakukan ziarah kubur maka sekarang berziaralah kalian karena ziarah kubur itu dapat melembutkan hati, membuat mata menangis dan mengingatkan kepada akhirat “ (HR. ALHAKIM dan lainnya)

Menjelang datangnya bulan ramadhan atau idul fitri biasanya banyak orang yang berziarah ke kuburan untuk mengenang orang tua, saudara maupun sanak saudara yang telah meninggal dunia. Sebenarnya untuk melaksanakan ziarah kubur waktunya tidak harus menjelang ramadhan atau idul fitri saja bisa kapanpun dilakukan namun karena sudah menjadi kebiasaan rasanya enak saja ketika dilaksanakan pada waktu-waktu tersebut.

 

3. Bermaaf-maafan

Ketika Rasullullah sedang berkhutbah pada Shalat Jum’at (dalam bulan Sya’ban), beliau mengatakan Amin sampai tiga kali, dan para sahabat begitu mendengar Rasullullah mengatakan Amin, terkejut dan spontan mereka ikut mengatakan Amin. Tapi para sahabat bingung, kenapa Rasullullah berkata Amin sampai tiga kali. Ketika selesai shalat Jum’at, para sahabat bertanya kepada Rasullullah, kemudian beliau menjelaskan: “ketika aku sedang berkhutbah, datanglah Malaikat Jibril dan berbisik, hai Rasullullah Amin-kan do’a ku ini,” jawab Rasullullah.

Do’a Malaikat Jibril itu adalah:

“Ya Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut:

1) Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada);

2) Tidak bermaafan terlebih dahulu antara suami istri;

3) Tidak bermaafan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya.

DSC_1456

 

4. Meugang

Tradisi Meugang berasal dari Aceh. Menjelang bulan Ramadhan, mereka patungan untuk membeli kerbau, menyembelihnya, lalu memakannya bersama-sama. Orang yang lebih mampu secara finansial biasanya juga memberikan sumbangan agar masyarakat yang kurang mampu dapat ikut serta menikmati tradisi ini.

 

5. Balimau

Balimau merupakan tradisi menyambut Ramadhan yang berasal dari Sumatera Barat. Dalam bahasa Minangkabau, balimau berarti mandi disertai keramas. Hal itu merupakan lambang pembersihan diri sebelum puasa dimulai. Acara balimau ini juga dilakukan secara beramai-ramai di sungai, danau, atau kolam.

 

6. Dugderan

Di Semarang, ada tradisi dugderan yang berbentuk festival dan pasar malam. Dugderan biasanya dilakukan satu minggu sebelum puasa. Banyak barang yang dijual para pedagang. Mulai dari mainan hingga pakaian. Ada pula hiburan seperti komidi putar.

Konon, dugderan berasal dari gabungan kata “dug” (suara bedug) dan “der” (suara meriam). Kedua benda ini dahulu dipakai untuk menandakan datangnya bulan suci Ramadhan.

 

7. Makan Kue Apem

Masyarakat Surabaya lazim mengonsumsi kue apem saat bulan puasa datang. Diduga, nama apem berasal dari bahasa Arab “Afwan” yang artinya maaf. Karena itu, secara simbolis apem diartikan meminta maaf kepada keluarga, teman, dan sanak saudara. Acara memakan kue apem bersama-sama dilanjutkan dengan bersalam-salaman dan tahlilan.

8. Perlon Unggahan

Di Banyumas, menjelang bulan Ramadhan mereka mengadakan Perlon Unggahan, yang merupakan acara makan besar. Banyak makanan yang disajikan, namun yang pasti ada adalah nasi bungkus, serundeng sapi, dan sayur becek. Serundeng sapi dan sayur becek harus disiapkan oleh 12 laki-laki, karena banyaknya kambing dan sapi yang disembelih.

 

Namun, dari berbagai tradisi budaya seperti yang ditulis di atas, ada satu tradisi yang sangat lekat akan negara Indonesia yakni tradisi naiknya harga kebutuhan bahan pokok. Selalu setiap tahun harga kebutuhan bahan pokok mengalami peningkatan bahkan jauh hari sebelum bulan Ramadhan itu datang, apalagi menjelang datangnya hari Raya Idul Fitri maka harga-harga tersebut akan semakin melonjak tinggi.

 

Lalu, apa tradisi menjelang Ramadhan yang ada di daerah kamu?

 

 

dikutip dari berbagai sumber

Bencana..

Satu kata yang sulit lepas dari negara ini. Ya, seperti yang telah terposting pada tulisan sebelumnya, Indonesia adalah negara yang sangat rawan akan terjadinya suatu bencana. Berbagai kerentanan dan risiko yang ada di Indonesia membuat bencana bisa datang kapan saja. Kita pasti tidak akan pernah lupa akan bencana dahsyat Gempa dan Tsunami yang terjadi di Aceh pada 2004 silam, gempa bumi di Jogja pada tahun 2006, meletusnya gunung Merapi tahun 2010, dan masih banyak lagi bencana lain yang telah menimpa Indonesia.

Dalam artikel ini, penulis akan sedikit banyak melanjutkan tentang berbagai penanganan yang dilakukan dalam menanggulangi bencana seperti yang telah dituliskan dalam artikel “Bersahabat Dengan Bencana”. Bagaimana mengenai penanganan kepada korban bencana terutama pada saat terjadinya bencana tersebut.

Dimulai pada saat penulis bersama para sahabat kuliah akan pentingnya partisipasi mahasiswa terhadap korban bencana alam membuat kami tergerak untuk membantu mereka. Ketika Gunung Merapi meletus pada pertengahan tahun 2010, banyak sekali bala bentuan dari berbagai pihak yang mengalir kepada para korban sehingga kami pun berusaha turut serta meringankan beban para korban.

Kami yang tergabung dalam Komunitas Mahasiswa Sosiologi Lingkungan & Kebencanaan melakukan penggalangan dana dengan meminta sumbangan kepada para pengguna jalan di sekitar ruas jalan kota Jember. Dengan dana yang terkumpul sekitar 5 juta rupiah yang berhasil diraup dalam hitungan 1 minggu membuat kami merasa cukup untuk berangkat ke lokasi kejadian untuk membantu para korban bencana letusan Merapi. Dengan membawa 5 awak mahasiswa (termasuk penulis) bersama seorang petugas akademik fakultas, kami berangkat dengan misi membantu para korban. Hehehe..

Setibanya di lokasi tepatnya di daerah Klaten, kami berusaha untuk mengikuti kegiatan yang dilakukan oleh para relawan yang membantu para korban merapi. Ada beberapa hal yang harus dilakukan terutama yang menyangkut hal-hal yang sangat urgent, seperti apa yang telah dilakukan oleh relawan FPBI (Forum Peduli Bencana Indonesia) seperti pada kegiatan berikut ini:

1. Kaji Cepat Kebutuhan Pengungsi

Menjadi sangat penting ketika pengungsi membutuhkan kebutuhan pokok seperti sandang dan pangan. Di sini, para relawan berusaha semaksimal mungkin untuk bisa membagikan bantuan yang telah diberikan oleh donatur secara adil kepada para korban, seperti makanan, minuman, selimut, peralatan mandi, baju dan sebagainya sehingga para pengungsi tidak terlantar.

relawan membagikan kebutuhan pagi para pengungsi

mendata kebutuhan pengungsi

2. Trauma Healing Anak Pengungsi

Untuk memberikan rasa aman dan nyaman kepada para anak-anak korban bencana alam, maka diberikanlah kegiatan trauma healing yang bertujuan untuk menceriakan perasaan mereka setelah terjadi bencana sehingga mereka para anak-anak tidak larut akan kesedihan setelah ditimpa suatu bencana.

anak-anak korban Merapi 2010 berkumpul untuk bersenang-senang

penulis bersama anak-anak pengungsi

penulis mengajari anak-anak membuat origami (^_^)

 

3. Dapur Khusus Air Panas 24 Jam (Balita, Anak, Lansia, Ibu Menyusui, & Ibu Hamil)

Banyak para pengungsi yang membutuhkan air panas atau hangat untuk berbagai keperluan seperti untuk balita, ibu hamil dan terutama bagi para lansia yang mempunyai kebiasaan menyeruput minuman hangat atau dalam bahasa jawanya adalah “wedang”. Kebutuhan ini bisa dikatakan cukup penting karena bisa sangat membantu bagi mereka yang dimaksudkan di atas.

kesibukan di dapur air panas

relawan membagikan air hangat kepada pengungsi..

4. Posko Logistik & Distribusi

Persediaan kebutuhan sandang dan pangan sangat diperlukan bagi para pengungsi. Di posko ini disimpan berbagai kebutuhan sehari-hari yang akan diperlukan oleh para pengungsi.

relawan mendata dan mencatat berbagai bantuan barang di posko logistik

penulis di posko logistik (^_^)

5. Air & Sanitasi

Salah satu hal yang juga sangat penting untuk kebutuhan para pengungsi yakni air dan sanitasi. Kebutuhan untuk mandi, minum, menyuci, dan sebagainya menuntut adanya tempat untuk air dan sanitasi tersebut karena memang dengan kondisi lapangan tempat pengungsian yang serba terbatas membuat arti pentingnya tempat ini.

para pengungsi memanfaatkan air untuk kebutuhan mandi dan mencuci

6. Dapur Umum

Tempat dimana para relawan menyiapkan makanan bagi para pengungsi dan korban bencana, tidak lupa pula bagi relawan itu sendiri.

bergotong royong memasak makanan

 

Dari berbagai dinamika kehidupan yang terjadi pada masyarakat korban bencana alam tersebut setidaknya para relawan bisa memberikan sebuah pengabdian dirinya kepada sesama yang sangat membutuhkan. Apalagi kepada yang sedang tertimpa bencana alam, menjadi seorang relawan tidaklah sumbangan buruk dari seseorang melainkan bantuan tenaga dan moril yang sangat dibutuhkan selain bantuan dana yang diberikan oleh para donatur.

Menjadi relawan? Siapa takut.. (^_^)

 

 

Seneng…

Bahagia..

Haru..

Syukur..

Dan semua rasa sukacita bercampur jadi satu ketika kita telah mencapai satu kata yakni “wisuda” dalam jenjang karir pendidikan kita, terutama pada para mahasiswa-mahasiswi yang telah mampu menyelesaikan studi mereka di Perguruan Tinggi baik itu untuk jenjang D3, S1, S2, ataupun S3. Rasa syukur tiada hentinya pasti mereka ucapkan karena telah berhasil menyelesaikan masa studi yang bisa dibilang cukup melelahkan. Membutuhkan waktu minimal 3 tahun untuk mahasiswa D3, 4 tahun untuk S1, dan seterusnya atau bahkan mungkin lebih dari itu bagi mereka yang memiliki “kecintaan” kepada kampus mereka bertempat kuliah. Ada yang 5 tahun, 6 tahun, 7 bahkan ada yang menyelesaikan semua kuota yang disediakan oleh pihak kampus selama 15 semester. Hehehehe..

Ucapan selamat tidak berhenti mengalir diucapkan dari para sahabat, kakak/adik angkatan, bapak/ibu dosen, petugas TU/Akademik, satpam kampus, temen kost, ibu/bapak kost, tetangga kost, keluarga dan kerabat, pacar, saudara, dan terutama dari kedua orang tua kita yang telah memberi banyak sekali support atau dukungan kepada mereka yang telah diwisuda.

Memang, mampu melewati masa-masa sulit dalam proses perkuliahan telah memberikan rasa kepuasan tersendiri ketika diwisuda, namun tidak bisa dipungkiri pula bahwa para wisudawan-wisudawati pasti merindukan masa-masa indah mereka ketika masih menyandang status sebagai mahasiswa. Namun, semua itu sudah menjadi masa lalu yang harus dikenang sebagai bagian dari hidup yang terus berjalan. Dengan status sebagai seorang Ahli Muda, Sarjana, Master, ataupun Doktor, sang wisudawan sudah tentu terangkat derajatnya dalam tatanan sistem masyarakat sehingga mereka mempunyai kesempatan untuk lebih memperbaiki kedudukan mereka di dalam pergaulan masyarakat. Para wisudawan ini idealnya harus mampu menjadi penjembatan yang bisa menghubungkan antara konsepsi ataupun sistem yang terjadi dalam suatu masyarakat yang sebelumnya dipandang biasa saja menjadi lebih baik lagi, seperti contoh ketika dalam masyarakat tersebut sedikit yang berpendidikan tinggi maka peran para sarjana harus bisa mengajak para masyarakat setempat agar bisa menjadi masyarakat yang lebih berpendidikan dari sebelumnya.

Yang jelas pada intinya, para wisudawan/wati yang telah sukses mendapat gelar harus mampu menjadi pembaharu bangsa, atau minimal menjadi pembeda buat keberlangsungan pembangunan masyarakat sekitar karena dari pundak mereka diharapkan mampu menciptakan masyarakat yang lebih baik dan lebih besar lagi menciptakan Indonesia yang lebih baik lagi.

Beberapa momen wisuda yang melibatkan penulis dikampus oranye Universitas Jember (Unej) Jatim. Ya, walaupun ane belum diwisuda minimal nampang dulu lah, hehehe.. :p

para wisudawan berpose bersama sahabat setelah menjalani proses wisuda yang cukup melelahkan.

 

penulis bersama salah satu sahabat yg telah berhasil diwisuda (^_^)

 

Dan finally, saya mengucapkan kepada semua yang telah menjalani prosesi wisuda hari ini di Gedung Soetardjo Universitas Jember, selamat atas wisudanya. Inget, kehidupan sesungguhnya baru dimulai hari ini lho..

Daoakan saja secepatnya saya menyusul kalian… Udah ditanyain terus nih.. hehehe.. :p

Congratulation ya..

Akhirnya.. (^_^)