Bulan Ramadhan hanya tinggal menghitung hari, dan tidak terasa kita sebagai umat muslim akan kembali mendapat kewajiban untuk melaksanakan rukun islam yang ke empat yakni puasa di  bulan Ramadhan. Dan menjelang bulan suci ,banyak sekali tradisi yang dilakukan untuk menyambut bulan penuh berkah tersebut. Apalagi di Indonesia yang dikenal sebagai negeri sejuta budaya, beraneka ragam suku dan kebudayaan membuat Indonesia mempunyai berbagai macam cara dalam menyambut bulan penuh berkah. Berikut beberapa tradisi yang dilakukan oleh masyarakat di Indonesia:

1. Padusan

Padusan adalah proses dimana dilakukan pembersihan diri menjelang puasa kurang 1 (satu) hari,pembersihan diri biasa dilakukan dengan cara mandi besar karena padusan adalah berasal dari kata dasar adus (dalam bahasa jawa) yang artinya mandi

1311745807507265284

 

2. Ziarah Kubur

“ Dulu aku melarang kalian melakukan ziarah kubur maka sekarang berziaralah kalian karena ziarah kubur itu dapat melembutkan hati, membuat mata menangis dan mengingatkan kepada akhirat “ (HR. ALHAKIM dan lainnya)

Menjelang datangnya bulan ramadhan atau idul fitri biasanya banyak orang yang berziarah ke kuburan untuk mengenang orang tua, saudara maupun sanak saudara yang telah meninggal dunia. Sebenarnya untuk melaksanakan ziarah kubur waktunya tidak harus menjelang ramadhan atau idul fitri saja bisa kapanpun dilakukan namun karena sudah menjadi kebiasaan rasanya enak saja ketika dilaksanakan pada waktu-waktu tersebut.

 

3. Bermaaf-maafan

Ketika Rasullullah sedang berkhutbah pada Shalat Jum’at (dalam bulan Sya’ban), beliau mengatakan Amin sampai tiga kali, dan para sahabat begitu mendengar Rasullullah mengatakan Amin, terkejut dan spontan mereka ikut mengatakan Amin. Tapi para sahabat bingung, kenapa Rasullullah berkata Amin sampai tiga kali. Ketika selesai shalat Jum’at, para sahabat bertanya kepada Rasullullah, kemudian beliau menjelaskan: “ketika aku sedang berkhutbah, datanglah Malaikat Jibril dan berbisik, hai Rasullullah Amin-kan do’a ku ini,” jawab Rasullullah.

Do’a Malaikat Jibril itu adalah:

“Ya Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut:

1) Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada);

2) Tidak bermaafan terlebih dahulu antara suami istri;

3) Tidak bermaafan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya.

DSC_1456

 

4. Meugang

Tradisi Meugang berasal dari Aceh. Menjelang bulan Ramadhan, mereka patungan untuk membeli kerbau, menyembelihnya, lalu memakannya bersama-sama. Orang yang lebih mampu secara finansial biasanya juga memberikan sumbangan agar masyarakat yang kurang mampu dapat ikut serta menikmati tradisi ini.

 

5. Balimau

Balimau merupakan tradisi menyambut Ramadhan yang berasal dari Sumatera Barat. Dalam bahasa Minangkabau, balimau berarti mandi disertai keramas. Hal itu merupakan lambang pembersihan diri sebelum puasa dimulai. Acara balimau ini juga dilakukan secara beramai-ramai di sungai, danau, atau kolam.

 

6. Dugderan

Di Semarang, ada tradisi dugderan yang berbentuk festival dan pasar malam. Dugderan biasanya dilakukan satu minggu sebelum puasa. Banyak barang yang dijual para pedagang. Mulai dari mainan hingga pakaian. Ada pula hiburan seperti komidi putar.

Konon, dugderan berasal dari gabungan kata “dug” (suara bedug) dan “der” (suara meriam). Kedua benda ini dahulu dipakai untuk menandakan datangnya bulan suci Ramadhan.

 

7. Makan Kue Apem

Masyarakat Surabaya lazim mengonsumsi kue apem saat bulan puasa datang. Diduga, nama apem berasal dari bahasa Arab “Afwan” yang artinya maaf. Karena itu, secara simbolis apem diartikan meminta maaf kepada keluarga, teman, dan sanak saudara. Acara memakan kue apem bersama-sama dilanjutkan dengan bersalam-salaman dan tahlilan.

8. Perlon Unggahan

Di Banyumas, menjelang bulan Ramadhan mereka mengadakan Perlon Unggahan, yang merupakan acara makan besar. Banyak makanan yang disajikan, namun yang pasti ada adalah nasi bungkus, serundeng sapi, dan sayur becek. Serundeng sapi dan sayur becek harus disiapkan oleh 12 laki-laki, karena banyaknya kambing dan sapi yang disembelih.

 

Namun, dari berbagai tradisi budaya seperti yang ditulis di atas, ada satu tradisi yang sangat lekat akan negara Indonesia yakni tradisi naiknya harga kebutuhan bahan pokok. Selalu setiap tahun harga kebutuhan bahan pokok mengalami peningkatan bahkan jauh hari sebelum bulan Ramadhan itu datang, apalagi menjelang datangnya hari Raya Idul Fitri maka harga-harga tersebut akan semakin melonjak tinggi.

 

Lalu, apa tradisi menjelang Ramadhan yang ada di daerah kamu?

 

 

dikutip dari berbagai sumber

Iklan

Bencana..

Satu kata yang sulit lepas dari negara ini. Ya, seperti yang telah terposting pada tulisan sebelumnya, Indonesia adalah negara yang sangat rawan akan terjadinya suatu bencana. Berbagai kerentanan dan risiko yang ada di Indonesia membuat bencana bisa datang kapan saja. Kita pasti tidak akan pernah lupa akan bencana dahsyat Gempa dan Tsunami yang terjadi di Aceh pada 2004 silam, gempa bumi di Jogja pada tahun 2006, meletusnya gunung Merapi tahun 2010, dan masih banyak lagi bencana lain yang telah menimpa Indonesia.

Dalam artikel ini, penulis akan sedikit banyak melanjutkan tentang berbagai penanganan yang dilakukan dalam menanggulangi bencana seperti yang telah dituliskan dalam artikel “Bersahabat Dengan Bencana”. Bagaimana mengenai penanganan kepada korban bencana terutama pada saat terjadinya bencana tersebut.

Dimulai pada saat penulis bersama para sahabat kuliah akan pentingnya partisipasi mahasiswa terhadap korban bencana alam membuat kami tergerak untuk membantu mereka. Ketika Gunung Merapi meletus pada pertengahan tahun 2010, banyak sekali bala bentuan dari berbagai pihak yang mengalir kepada para korban sehingga kami pun berusaha turut serta meringankan beban para korban.

Kami yang tergabung dalam Komunitas Mahasiswa Sosiologi Lingkungan & Kebencanaan melakukan penggalangan dana dengan meminta sumbangan kepada para pengguna jalan di sekitar ruas jalan kota Jember. Dengan dana yang terkumpul sekitar 5 juta rupiah yang berhasil diraup dalam hitungan 1 minggu membuat kami merasa cukup untuk berangkat ke lokasi kejadian untuk membantu para korban bencana letusan Merapi. Dengan membawa 5 awak mahasiswa (termasuk penulis) bersama seorang petugas akademik fakultas, kami berangkat dengan misi membantu para korban. Hehehe..

Setibanya di lokasi tepatnya di daerah Klaten, kami berusaha untuk mengikuti kegiatan yang dilakukan oleh para relawan yang membantu para korban merapi. Ada beberapa hal yang harus dilakukan terutama yang menyangkut hal-hal yang sangat urgent, seperti apa yang telah dilakukan oleh relawan FPBI (Forum Peduli Bencana Indonesia) seperti pada kegiatan berikut ini:

1. Kaji Cepat Kebutuhan Pengungsi

Menjadi sangat penting ketika pengungsi membutuhkan kebutuhan pokok seperti sandang dan pangan. Di sini, para relawan berusaha semaksimal mungkin untuk bisa membagikan bantuan yang telah diberikan oleh donatur secara adil kepada para korban, seperti makanan, minuman, selimut, peralatan mandi, baju dan sebagainya sehingga para pengungsi tidak terlantar.

relawan membagikan kebutuhan pagi para pengungsi

mendata kebutuhan pengungsi

2. Trauma Healing Anak Pengungsi

Untuk memberikan rasa aman dan nyaman kepada para anak-anak korban bencana alam, maka diberikanlah kegiatan trauma healing yang bertujuan untuk menceriakan perasaan mereka setelah terjadi bencana sehingga mereka para anak-anak tidak larut akan kesedihan setelah ditimpa suatu bencana.

anak-anak korban Merapi 2010 berkumpul untuk bersenang-senang

penulis bersama anak-anak pengungsi

penulis mengajari anak-anak membuat origami (^_^)

 

3. Dapur Khusus Air Panas 24 Jam (Balita, Anak, Lansia, Ibu Menyusui, & Ibu Hamil)

Banyak para pengungsi yang membutuhkan air panas atau hangat untuk berbagai keperluan seperti untuk balita, ibu hamil dan terutama bagi para lansia yang mempunyai kebiasaan menyeruput minuman hangat atau dalam bahasa jawanya adalah “wedang”. Kebutuhan ini bisa dikatakan cukup penting karena bisa sangat membantu bagi mereka yang dimaksudkan di atas.

kesibukan di dapur air panas

relawan membagikan air hangat kepada pengungsi..

4. Posko Logistik & Distribusi

Persediaan kebutuhan sandang dan pangan sangat diperlukan bagi para pengungsi. Di posko ini disimpan berbagai kebutuhan sehari-hari yang akan diperlukan oleh para pengungsi.

relawan mendata dan mencatat berbagai bantuan barang di posko logistik

penulis di posko logistik (^_^)

5. Air & Sanitasi

Salah satu hal yang juga sangat penting untuk kebutuhan para pengungsi yakni air dan sanitasi. Kebutuhan untuk mandi, minum, menyuci, dan sebagainya menuntut adanya tempat untuk air dan sanitasi tersebut karena memang dengan kondisi lapangan tempat pengungsian yang serba terbatas membuat arti pentingnya tempat ini.

para pengungsi memanfaatkan air untuk kebutuhan mandi dan mencuci

6. Dapur Umum

Tempat dimana para relawan menyiapkan makanan bagi para pengungsi dan korban bencana, tidak lupa pula bagi relawan itu sendiri.

bergotong royong memasak makanan

 

Dari berbagai dinamika kehidupan yang terjadi pada masyarakat korban bencana alam tersebut setidaknya para relawan bisa memberikan sebuah pengabdian dirinya kepada sesama yang sangat membutuhkan. Apalagi kepada yang sedang tertimpa bencana alam, menjadi seorang relawan tidaklah sumbangan buruk dari seseorang melainkan bantuan tenaga dan moril yang sangat dibutuhkan selain bantuan dana yang diberikan oleh para donatur.

Menjadi relawan? Siapa takut.. (^_^)

 

 

Seneng…

Bahagia..

Haru..

Syukur..

Dan semua rasa sukacita bercampur jadi satu ketika kita telah mencapai satu kata yakni “wisuda” dalam jenjang karir pendidikan kita, terutama pada para mahasiswa-mahasiswi yang telah mampu menyelesaikan studi mereka di Perguruan Tinggi baik itu untuk jenjang D3, S1, S2, ataupun S3. Rasa syukur tiada hentinya pasti mereka ucapkan karena telah berhasil menyelesaikan masa studi yang bisa dibilang cukup melelahkan. Membutuhkan waktu minimal 3 tahun untuk mahasiswa D3, 4 tahun untuk S1, dan seterusnya atau bahkan mungkin lebih dari itu bagi mereka yang memiliki “kecintaan” kepada kampus mereka bertempat kuliah. Ada yang 5 tahun, 6 tahun, 7 bahkan ada yang menyelesaikan semua kuota yang disediakan oleh pihak kampus selama 15 semester. Hehehehe..

Ucapan selamat tidak berhenti mengalir diucapkan dari para sahabat, kakak/adik angkatan, bapak/ibu dosen, petugas TU/Akademik, satpam kampus, temen kost, ibu/bapak kost, tetangga kost, keluarga dan kerabat, pacar, saudara, dan terutama dari kedua orang tua kita yang telah memberi banyak sekali support atau dukungan kepada mereka yang telah diwisuda.

Memang, mampu melewati masa-masa sulit dalam proses perkuliahan telah memberikan rasa kepuasan tersendiri ketika diwisuda, namun tidak bisa dipungkiri pula bahwa para wisudawan-wisudawati pasti merindukan masa-masa indah mereka ketika masih menyandang status sebagai mahasiswa. Namun, semua itu sudah menjadi masa lalu yang harus dikenang sebagai bagian dari hidup yang terus berjalan. Dengan status sebagai seorang Ahli Muda, Sarjana, Master, ataupun Doktor, sang wisudawan sudah tentu terangkat derajatnya dalam tatanan sistem masyarakat sehingga mereka mempunyai kesempatan untuk lebih memperbaiki kedudukan mereka di dalam pergaulan masyarakat. Para wisudawan ini idealnya harus mampu menjadi penjembatan yang bisa menghubungkan antara konsepsi ataupun sistem yang terjadi dalam suatu masyarakat yang sebelumnya dipandang biasa saja menjadi lebih baik lagi, seperti contoh ketika dalam masyarakat tersebut sedikit yang berpendidikan tinggi maka peran para sarjana harus bisa mengajak para masyarakat setempat agar bisa menjadi masyarakat yang lebih berpendidikan dari sebelumnya.

Yang jelas pada intinya, para wisudawan/wati yang telah sukses mendapat gelar harus mampu menjadi pembaharu bangsa, atau minimal menjadi pembeda buat keberlangsungan pembangunan masyarakat sekitar karena dari pundak mereka diharapkan mampu menciptakan masyarakat yang lebih baik dan lebih besar lagi menciptakan Indonesia yang lebih baik lagi.

Beberapa momen wisuda yang melibatkan penulis dikampus oranye Universitas Jember (Unej) Jatim. Ya, walaupun ane belum diwisuda minimal nampang dulu lah, hehehe.. :p

para wisudawan berpose bersama sahabat setelah menjalani proses wisuda yang cukup melelahkan.

 

penulis bersama salah satu sahabat yg telah berhasil diwisuda (^_^)

 

Dan finally, saya mengucapkan kepada semua yang telah menjalani prosesi wisuda hari ini di Gedung Soetardjo Universitas Jember, selamat atas wisudanya. Inget, kehidupan sesungguhnya baru dimulai hari ini lho..

Daoakan saja secepatnya saya menyusul kalian… Udah ditanyain terus nih.. hehehe.. :p

Congratulation ya..

Akhirnya.. (^_^)

Bersahabat Dengan Bencana

Posted: 14 Juli 2012 in dunia sosiologi

Indonesia selama ini dikenal sebagai daerah yang rawan dengan berbagai bencana alam, seperti gempa bumi, banjir, hingga tanah longsor. Wilayah Indonesia yang berada di kawasan tropis berbentuk kepulauan dengan jumlah pulau 17.504 buah, luas perairan laut 7,9 juta km2, dan luas daratan 1,86 juta km2 menyebabkan rawan bencana. Dengan jumlah penduduk yang mencapai 238 juta orang berdasarkan Sensus Penduduk Tahun 2010, 59% diantaranya tinggal di Pulau Jawa (140 juta orang) dengan rata-rata kepadatan penduduk  1000 orang/km2.

Adanya kerusakan lingkungan dan perubahan iklim global akan semakin meningkatkan terjadinya bencana di Indonesia. Bencana memiliki sifat uncertainty yg tinggi, yang pasti adalah ancaman bencana selalu ada di Indonesia sehingga perlu menekankan upaya penanggulangan bencana secara sistematik (disaster management)

Berikut adalah beberapa definisi bencana

  • UN-ISDR (2000) United Nation-International Strategy for Disaster Reduction

            Suatu gangguan serius terhadap keberfungsian masyarakat, sehingga menyebabkan kerugian yang meluas pada kehidupan manusia dari segi materi, ekonomi atau lingkungan, dan gangguan itu melampaui kemampuan masyarakat yang bersangkutan untuk mengatasi dengan menggunakan sumberdaya mereka sendiri.

  • Undang-Undang No 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana

            Peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yg disebabkan, baik faktor alam, non alam maupun manusia, shg menyebabkan timbulnya korban jiwa, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda dan dampak psikologis.

Siklus Bencana

Klasifikasi Bencana

  • Berdasar jenisnya:
    • Alam
    • Non alam / ulah manusia
    • Berdasar terjadinya:
      • Perlahan (slow onset)
      • Mendadak (sudden onset)
  •  Berdasar aspek penyebabnya:
    • Geologi
    • Hidrometeorologi
    • Biologi
    • Teknologi
    • Lingkungan

 

Jenis Bencana (UU No. 24/2007 Tentang Penanggulangan Bencana Bab I: Ketentuan Umum, Pasal 1)

  • Bencana Alam
    • (1) gempa bumi, (2) tsunami, (3) gunung meletus, (4) banjir, (5) kekeringan, (6) angin topan, (7) tanah longsor
  • Bencana Non-Alam
    • (8) gagal teknologi, (9) gagal modernisasi, (10) epidemi, (11) wabah penyakit
  • Bencana Sosial
    • (12) konflik sosial antarkelompok atau antarkomunitas masyarakat, (13) teror

Dampak Bencana

  • Korban meninggal dunia
  • Korban luka
  • Kerusakan properti, harta benda
  • Kerusakan lahan, hewan dan tanaman
  • Hilangnya produksi
  • Hilangnya penghidupan / mata pencaharian
  • Hilangnya pelayanan publik
  • Kerusakan prasarana dan infrastruktur
  • Kerugian ekonomi
  • Dampak sosial dan psikososial

    Beberapa istilah dalam proses penanggulangan bencana

    • Pencegahan (prevention)
    • Adaptasi (adaptation)
    • Mitigasi (mitigation)
    • Kesiapsiagaan (preparedness)
    • Kesiagaan (readiness)
    • Penguatan (retrofitting)
    • Kedaruratan kompleks (emergency complex)
    • Tanggap darurat ( emergency response)
    • Pemulihan (recovery)
    • Perbaikan (rehabilitation)
    • Pembangunan kembali (reconstruction)

    Dalam menghadapi kemungkinan terjadinya suatu bencana, BNPB (Badan Penanggulangan Bencana) merumuskan beberapa langkah yang bisa diaplikasikan demi mencegah ataupun meminimalisir risiko yang ditimbulkan oleh bencana tersebut. Terdapat 3 (tiga) tahap diantaranya:

  • 1.      Tahap Pra-Bencanaü  Penilaian Resiko (Pemetaan daerah Rawan, analisis resiko)

    ü  Pendidikan dan Pelatihan, TOT aparatur pemerintah dan masyarakat

    ü  Pusat Pengendalian Operasi

    ü  Penyusunan Pedoman dan Protap

    ü  Peningkatan Kewaspadaan Masyarakat

    ü  Penyusunan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010 – 2014

    ü  Kesiapsiagaan Menghadapi Bencana

  • 2.      Tahap Saat Bencanaü  Pencarian dan Penyelamatan Korban

    ü  Bantuan Darurat Kemanusiaan berupa makanan, pakaian dan shelter

    ü  layanan kesehatan termasuk trauma psikologis

    ü  Sanitasi dan kesehatan lingkungan

  • 3.      Tahap Pasca Bencanaü  Rehabilitasi dan Rekonstruksi dilakukan secara terkoordinasi dan terpadu diantara antar instansi terkait

    ü  Bantuan rehabilitasi dan rekonstruksi diajukan kepada Ka BNPB melalui Gubernur

 

 

Disampaikan oleh Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Dr. Syamsul Maarif dalam kuliah umum Pengantar Manajemen Penanggulangan Bencana Indonesia di Sosiologi Universitas Jember

Keistimewaan Bulan Sya’ban

Posted: 12 Juli 2012 in dunia islami

Dalam hadistnya Nabi Muhammad Saw. bersabda : “Bahwa Rajab itu bulan Allah, Sya’ban bulanKu dan Ramadhan adalah bulan ummat-Ku”.

Bulan Sya’ban adalah bulan yang ke-8 dalam sistem kalender Islam. Bulan Sya’ban berada di antara bulan hijriyah Rajab dan Ramadhan. Nama bulan ini berakar dari kata bahasa arab tasya’aba yang berarti berpencar. Pada masa itu, kaum arab biasa pergi memencar, keluar mencari air. Bulan Sya’ban juga berasal dari kata sya’aba yang berarti merekah atau muncul dari kedalaman karena ia berada di antara dua bulan yang mulia juga.

Rasulullah menyebut bulan Sya’ban ini sebagai bulan yang sering dilupakan manusia. Ia dilupakan karena berada di antara dua bulan yang menyedot perhatian: bulan Rajab dan Ramadhan. Bulan Rajab diperhatikan karena ia merupakan salah satu dari bulan Haram, sementara Ramadhan karena adanya kewajiban puasa sebulan penuh di dalamnya.

Berikut adalah beberapa keistimewaan yang terdapat pada bulan Sya’ban ini, diantaranya:

1. Tentang Keutamaan Puasa Bulan Sya’ban

Dalam shahih Bukhâri dan Muslim, diriwayatkan bahwa A’isyah radhiyallâhu’anha menceritakan,

“Aku tidak pernah melihat Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam puasa satu bulan penuh kecuali pada bulan Ramadhân dan aku tidak pernah melihat Beliau Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam puasa lebih banyak dalam sebulan dibandingkan dengan puasa Beliau pada bulan Sya’bân.”

Imam Ahmad rahimahullâh dan Nasa’i rahimahullâh meriwayatkan sebuat hadits dari Usâmah bin Zaid radhiyallâhu’anhu, beliau mengatakan,

Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam tidak pernah berpuasa dalam sebulan sebagaimana Beliau Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam berpuasa pada bulan Sya’bân. Lalu ada yang berkata, ‘Aku tidak pernah melihat anda berpuasa sebagaimana anda berpuasa pada bulan Sya’bân.’ Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam menjawab, ‘Banyak orang melalaikannya antara Rajab dan Ramadhân. Padahal pada bulan itu, amalan-amalan makhluk diangkat kehadirat Rabb, maka saya ingin amalan saya diangkat saat saya sedang puasa.

2. Tentang Keutamaan Malam Nisfu Sya’ban

Ada beberapa riwayat yang dikomentari sendiri oleh Ibnu Rajab rahimahullâh setelah membawakannya bahwa riwayat-riwayat ini masih diperselisihkan. Kebanyakan para ulama menilainya lemah sementara Ibnu Hibbân rahimahullâh menilai sebagiannya shahih dan beliau membawakannya dalam shahih Ibnu Hibbân.

Diantara contohnya, dalam sebuah riwayat dari ‘Aisyah radhiyallâhu’anha,

“Sesungguhnya Allâh Ta’ala akan turun ke langit dunia pada malam nisfu Sya’bân lalu Allâh Ta’ala memberikan ampunan kepada (manusia yang jumlahnya) lebih dari jumlah bulu kambing-kambing milik Bani Kalb.”

Hadits ini dibawakan oleh Imam Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Mâjah. Tirmidzi rahimahullâh menyebutkan bahwa Imam Bukhâri rahimahullâh menilai hadits ini lemah. Kemudian Ibnu Rajab rahimahullâh menyebutkan beberapa hadits yang semakna dengan ini seraya mengatakan, “Dalam bab ini terdapat beberapa hadits lainnya namun memiliki kelemahan. “

As-Syaukâni rahimahullâh menyebutkan bahwa dalam riwayat ‘Aisyah radhiyallâhu’anha tersebut ada kelemahan dan sanadnya terputus. Syaikh Bin Bâz rahimahullâh menyebutkan bahwa ada beberapa hadits lemah yang tidak bisa dijadikan pedoman tentang keutamaan malam nisfu Sya’bân.

3. Tentang Shalat Pada Malam Nisfu Sya’ban

Untuk masalah ini ada tiga tingkatan,

Tingkatan pertama, shalat yang dikerjakan oleh orang yang terbiasa melakukannya diluar malam nisfu Sya’bân. Seperti orang yang terbiasa melakukan shalat malam. Jika orang ini melakukan shalat malam yang biasa dilakukannya diluar malam nisfu Sya’bân pada malam nisfu Sya’bân tanpa memberikan tambahan khusus dan dengan tanpa ada keyakinan bahwa malam ini memiliki keistimewaan, maka shalat yang dikerjakan orang ini tidak apa-apa. Karena ia tidak membuat-buat suatu yang baru dalam agama Allâh Ta’ala

Tingkatan kedua, shalat yang khusus dikerjakan pada malam nisfu Sya’bân. Ini termasuk bid’ah. Karena tidak ada riwayat dari Nabi Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam yang menyatakan Beliau memerintahkan, atau mengerjakannya begitu juga dengan para shahabatnya. Adapun hadits Ali radhiyallâhu’anhu yang diriwayatkan oleh Ibnu Mâjah rahimahullâh, “Jika malam nisfu Sya’bân, maka shalatlah di malam harinya dan berpuasalah pada siangnya.”, sudah dijelaskan (di atas) bahwa Ibnu Rajab rahimahullâh menilainya lemah, sementara Rasyid Ridha rahimahullâh menilainya palsu.

Hadits seperti ini tidak bisa dijadikan sandaran untuk menetapkan hukum syar’i. Para Ulama memberikan toleran dalam masalah beramal dengan hadits lemah dalam masalah fadhâilul a’mâl, tapi itupun dengan beberapa syarat yang harus terpenuhi, diantaranya,

  • Syarat pertama, kelemahan hadits itu tidak parah. Sementara kelemahan hadits (tentang shalat nisfu Sya’bân) ini sangat parah. Karena diantara perawinya ada orang yang pernah memalsukan hadits, sebagaimana kami nukilkan dari Muhammad Rasyid Ridha rahimahullâh.
  • Syarat kedua, hadits yang lemah itu menjelaskan suatu yang ada dasarnya. Misalnya, ada ibadah yang ada dasarnya lalu ada hadits-hadits lemah yang menjelaskannya sementara kelemahannya tidak parah, maka hadits-hadits lemah ini bisa memberikan tambahan motivasi untuk melakukannya, dengan mengharapkan pahala yang disebutkan tanpa meyakininya sepenuh hati. Artinya, jika benar, maka itu kebaikan bagi yang melakukannya, sedangkan jika tidak benar, maka itu tidak membahayakannya karena ada dalil lain yang dijadikan landasan utama.

Sebagaimana sudah diketahui bahwa dalam dalil yang memerintahkan untuk menunaikan shalat nisfu Sya’bân, syarat-syarat tersebut tidak terpenuhi karena perintah ini tidak memiliki dalil yang shahih dari Nabi Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Rajab rahimahullâh dan yang lainnya.

Dalam al-Lathâif (hlm. 145) Ibnu Rajab rahimahullâh mengatakan,

“Begitu juga tentang shalat malam pada malam nisfu Sya’bân, tidak ada satu dalil sahih pun dari Nabi Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam maupun dari shahabat.

Muhammad Rasyid Ridha rahimahullâh mengatakan,

“Allâh Ta’ala tidak mensyari’atkan bagi kaum Mukminin satu amalan khusus pun pada malam nisfu Sya’bân ini, tidak melalui kitabullah, ataupun melalui lisan Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam juga tidak melalui sunnah Beliau Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam.”

Syaikh Bin Baz rahimahullâh mengatakan,

“Semua riwayat yang menerangkan keutamaan shalat malam nisfu Sya’bân adalah riwayat palsu.”

Keterangan terbaik tentang shalat malam nisfu Sya’bân yaitu perbuatan sebagian tabi’in, sebagaimana penjelasan Ibnu Rajab dalam al-Lathâif (hlm. 144), “Malam nisfu Sya’bân diagungkan oleh tabi’in dari Syam. Mereka bersungguh-sungguh melakukan ibadah pada malam itu. Dari mereka inilah, keutamaan dan pengagungan malam ini diambil.

Ada yang mengatakan, ‘Riwayat yang sampai kepada mereka tentang malam nisfu Sya’bân itu adalah riwayat-riwayat isra’iliyyat.’ Ketika kabar ini tersebar diseluruh negeri, manusia mulai berselisih pendapat, ada yang menerimanya dan sependapat untuk mengagungkan malam nisfu Sya’bân, sedangkan Ulama Hijâz mengingkarinya. Mereka mengatakan, ‘Semua itu perbuatan bid’ah.’

Tidak diragukan lagi, pendapat ulama Hijaz ini adalah pendapat yang benar karena Allâh Ta’ala berfirman, yang artinya,

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu,
dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku,
dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.”
(Qs al-Maidah/5:3)

Seandainya shalat malam nisfu Sya’bân itu bagian dari agama Allâh, tentu Allâh Ta’ala jelaskan dalam kitab-Nya, atau dijelaskan oleh Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam melalui ucapan maupun perbuatan Beliau. Ketika keterangan itu tidak ada, itu berarti shalat khusus ini bukan bagian dari agama Allâh Ta’ala.

Semua (ibadah) yang bukan bagian dari agama Allâh Ta’ala adalah bid’ah, sementara ada dalil shahih dari Nabi Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam, bahwa Beliau bersabda, “Semua bid’ah itu sesat.”

Tingkatan ketiga, dikerjakan malam itu satu shalat khusus dengan jumlah tertentu dan ini dilakukan tiap tahun. Maka ini lebih parah daripada tingkatan kedua dan lebih jauh dari sunnah. Riwayat-riwayat yang menjelaskan keutamaannya adalah hadits palsu.

As-Syaukâni rahimahullâh mengatakan (al-Fawâidul Majmû’ah, hlm. 15),

“Semua riwayat tentang shalat malam nisfu Sya’bân ini adalah riwayat bathil dan palsu.”

sumber : majalah-assunnah.com

Sistem kependudukan melalui e-KTP atau Kartu Tanda Penduduk Elektronik merupakan cara baru yang akan ditempuh oleh pemerintah untuk memberikan identitas kepada masyarakat. Nah, pada tahun 2012 mendatang sistem tersebut mulai diberlakukan.

e-KTP memang merupakan cara jitu yang dilakukan pemerintah untuk membangun database kependudukan secara nasional. Dengan menggunakan sistim biometrik yang ada di dalamnya, maka setiap pemiliki e-KTP dapat terhubung kedalam satu database nasional, sehingga setiap penduduk hanya memerlukan 1 KTP saja.

“KTP elektronik menggunakan sistem biometrik atau sidik jari, sehinga setiap warga hanya membutuhkan satu KTP saja yang dapat dihubungkan dengan database nasional,”

Pihak BBPT mengatakan bahwa pemerintah akan segera menerapkan teknologi yang siap pakai tersebut, untuk menggantikan sistem kependudukan konvensional yang sudah ada.

struktur olah informasi
Proyek e-KTP dilatarbelakangi oleh sistem pembuatan KTP konvensional di Indonesia yang memungkinkan seseorang dapat memiliki lebih dari satu KTP. Hal ini disebabkan belum adanya basis data terpadu yang menghimpun data penduduk dari seluruh Indonesia. Fakta tersebut memberi peluang penduduk yang ingin berbuat curang terhadap negara dengan menduplikasi KTP-nya. Beberapa diantaranya digunakan untuk hal-hal berikut:

1. Menghindari pajak
2. Memudahkan pembuatan paspor yang tidak dapat dibuat di seluruh kota
3. Mengamankan korupsi
4. Menyembunyikan identitas (misalnya oleh para teroris)
Untuk mengatasi duplikasi tersebut sekaligus menciptakan kartu identitas multifungsi, digagaslah e-KTP yang menggunakan pengamanan berbasis biometrik.
Penggunaan sidik jari e-KTP lebih canggih dari yang selama ini telah diterapkan untuk SIM (Surat Izin Mengemudi). Sidik jari tidak sekedar dicetak dalam bentuk gambar (format jpeg) seperti di SIM, tetapi juga dapat dikenali melalui chip yang terpasang di kartu. Data yang disimpan di kartu tersebut telah dienkripsi dengan algoritma kriptografi tertentu. Proses pengambilan sidik jari dari penduduk sampai dapat dikenali dari chip kartu adalah sebagai berikut:

sistem kerja E-KTP

Sidik jari yang direkam dari setiap wajib KTP adalah seluruh jari (berjumlah sepuluh), tetapi yang dimasukkan datanya dalam chip hanya dua jari, yaitu jempol dan telunjuk kanan. Sidik jari dipilih sebagai autentikasi untuk e-KTP karena alasan berikut:
Biaya paling murah, lebih ekonomis daripada biometrik yang lain
Bentuk dapat dijaga tidak berubah karena gurat-gurat sidik jari akan kembali ke bentuk semula walaupun kulit tergores
Unik, tidak ada kemungkinan sama walaupun orang kembar
Informasi penduduk yang dicantumkan dalam e-KTP ditunjukkan pada layout kasar berikut:
bagian-bagian E-KTP
Selain tujuan yang hendak dicapai, manfaat e-KTP diharapkan dapat dirasakan sebagai berikut:

1. Identitas jati diri tunggal
2. Tidak dapat dipalsukan
3. Tidak dapat digandakan
4. Dapat dipakai sebagai kartu suara dalam pemilu atau pilkada

Struktur e-KTP sendiri terdiri dari sembilan layer yang akan meningkatkan pengamanan dari KTP konvensional. Chip ditanam di antara plastik putih dan transparan pada dua layer teratas (dilihat dari depan). Chip ini memiliki antena didalamnya yang akan mengeluarkan gelombang jika digesek. Gelombang inilah yang akan dikenali oleh alat pendeteksi e-KTP sehingga dapat diketahui apakah KTP tersebut berada di tangan orang yang benar atau tidak. Untuk menciptakan e-KTP dengan sembilan layer, tahap pembuatannya cukup banyak, diantaranya:

1. Hole punching, yaitu melubangi kartu sebagai tempat meletakkan chip
2. Pick and pressure, yaitu menempatkan chip di kartu
3. Implanter, yaitu pemasangan antenna (pola melingkar berulang menyerupai 4. spiral)
5. Printing,yaitu pencetakan kartu
6. Spot welding, yaitu pengepresan kartu dengan aliran listrik
7. Laminating, yaitu penutupan kartu dengan plastik pengaman

Penyimpanan dua buah sidik jari telunjuk di dalam chip sesuai dengan standar internasional NISTIR 7123 dan Machine Readable Travel Documents ICAO 9303 serta EU Passport Specification 2006. Bentuk KTP elektronik sesuai dengan ISO 7810 dengan form factor ukuran kartu kredit yaitu 53,98 mm x 85,60 mm.
KTP elektronik sebagaimana KTP kertas memiliki masa berlaku 5 tahun. KTP selalu dibawa dan digunakan oleh penduduk dalam kondisi dan cuaca yang beragam serta berbagai aktifitas seperti pertanian, perdagangan, perjalanan dan perkantoran dengan frekuensi penggunaan yang tinggi. Keadaan ini memerlukan ketahanan fisik kartu dan komponennya dalam penggunaan yang sering dan jangka waktu yang lama.
Kartu kredit biasanya dibuat dari bahan polyvinyl chloride (PVC) karena diharapkan dapat digunakan selama tiga tahun. Tetapi masa berlaku KTP selama lima tahun memerlukan bahan yang lebih kuat yaitu polyester terephthalate (PET) yang memiliki ketahanan hingga sepuluh tahun.
Chip dapat dipasang pada kartu dengan interface kontak atau nirkontak. Kartu elektronik dengan interface kontak telah banyak diluncurkan untuk keperluan kartu telpon, kartu kredit dan kartu kesehatan (APSCA 2007). Kartu nirkontak mulai banyak digunakan untuk kebutuhan transportasi umum karena kemudahan dan kenyamanan penggunaan dengan cukup menempelkan kartu ke perangkat pembaca tanpa memasukkan kartu ke dalam slot perangkat pembaca.
Kartu nirkontak tidak bergesekan langsung dengan perangkat pembaca yang dapat menyebabkan terkikisnya lapisan pelindung chip. Kartu nirkontak juga memiliki daya tahan tinggi karena terlindungi dari kontak langsung lingkungan seperti udara, air dan cairan lainnya. Ia juga terlindung dari karat karena kelembaban udara dan air khusunya di daerah tropis seperti di Indonesia. Oleh karena itu, kartu e-KTP menggunakan interface nirkontak.

sumber:

Jika sahabat2  sekalian tak hapal bulan-bulan dalam Islam, apalagi maknanya, mungkin kalian tak sendirian. Sebab, bulan-bulan resmi yang digunakan di Indonesia mengacu pada Masehi. Inilah makna di balik bulan-bulan Hijriyah itu.

PENDAHULUAN
Kalender Islam menggunakan peredaran bulan sebagai acuannya, berbeda dengan kalender biasa (kalender Masehi) yang menggunakan peredaran matahari. Penetapan kalender Hijriyah dilakukan pada jaman Khalifah Umar bin Khatab, yang menetapkan peristiwa hijrahnya Rasulullah saw dari Mekah ke Madinah.

Kalender Hijriyah juga terdiri dari 12 bulan, dengan jumlah hari berkisar 29 – 30 hari. Penetapan 12 bulan ini sesuai dengan firman Allah Subhana Wata’ala, ”Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (QS :At Taubah(9): 36).

Sebelumnya, orang arab pra-kerasulan Rasulullah Muhammad saw telah menggunakan bulan-bulan dalam kalender Hijriyah ini. Hanya saja mereka tidak menetapkan ini tahun berapa, tetapi tahun apa. Misalnya saja kita mengetahui bahwa kelahiran Rasulullah saw adalah di tahun gajah.

Abu Musa Al-Asyri sebagai salah satu gubernur di zaman Khalifah Umar r.a. menulis surat kepada Amirul Mukminin yang isinya menanyakan surat-surat dari khalifah yang tidak ada tahunnya, hanya tanggal dan bulan saja, sehingga membingungkan. Khalifah Umar lalu mengumpulkan beberapa sahabat senior waktu itu.

Mereka adalah Utsman bin Affan r.a., Ali bin Abi Thalib r.a., Abdurrahman bin Auf r.a., Sa’ad bin Abi Waqqas r.a., Zubair bin Awwam r.a., dan Thalhan bin Ubaidillah r.a. Mereka bermusyawarah mengenai kalender Islam. Ada yang mengusulkan berdasarkan milad Rasulullah saw. Ada juga yang mengusulkan berdasarkan pengangkatan Muhammad saw menjadi Rasul. Dan yang diterima adalah usul dari Ali bin Abi Thalib r.a. yaitu berdasarkan momentum hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Yatstrib (Madinah).

Alhasil, semuanya setuju dengan usulan Ali r.a. dan ditetapkan bahwa tahun pertama dalam kalender Islam adalah pada masa hijrahnya Rasulullah saw.

Sedangkan nama-nama bulan dalam kalender hijriyah ini diambil dari nama-nama bulan yang telah ada dan berlaku di masa itu di bangsa Arab.

Orang Arab memberi nama bulan-bulan mereka dengan melihat keadaan alam dan masyarakat pada masa-masa tertentu sepanjang tahun. Misalnya bulan Ramadhan, dinamai demikian karena pada bulan Ramadhan waktu itu udara sangat panas seperti membakar kulit rasanya. Berikut adalah arti nama-nama bulan dalam Islam:

Nih Asal dan Maknanya gan…

MUHARRAM, artinya: yang diharamkan atau yang menjadi pantangan. Penamaan Muharram, sebab pada bulan itu dilarang menumpahkan darah atau berperang. Larangan tesebut berlaku sampai masa awal Islam.

SHAFAR, artinya: kosong. Penamaan Shafar, karena pada bulan itu semua orang laki-laki Arab dahulu pergi meninggalkan rumah untuk merantau, berniaga dan berperang, sehingga pemukiman mereka kosong dari orang laki-laki.

RABI’ULAWAL, artinya: berasal dari kata rabi’ (menetap) dan awal (pertama). Maksudnya masa kembalinya kaum laki-laki yang telah meninqgalkan rumah atau merantau. Jadi awal menetapnya kaum laki-laki di rumah. Pada bulan ini banyak peristiwa bersejarah bagi umat Islam, antara lain: Nabi Muhammad saw lahir, diangkat menjadi Rasul, melakukan hijrah, dan wafat pada bulan ini juga.

RABIU’ULAKHIR, artinya: masa menetapnya kaum laki-laki untuk terakhir atau penghabisan.

JUMADILAWAL nama bulan kelima. Berasal dari kata jumadi (kering) dan awal (pertama). Penamaan Jumadil Awal, karena bulan ini merupakan awal musim kemarau, di mana mulai terjadi kekeringan.

JUMADIL AKHIR, artinya: musim kemarau yang penghabisan.

RAJAB, artinya: mulia. Penamaan Rajab, karena bangsa Arab tempo dulu sangat memuliakan bulan ini, antara lain dengan melarang berperang.

SYA’BAN, artinya: berkelompok. Penamaan Sya’ban karena orang-orang Arab pada bulan ini lazimnya berkelompok mencari nafkah. Peristiwa penting bagi umat Islam yang terjadi pada bulan ini adalah perpindahan kiblat dari Baitul Muqaddas ke Ka’bah (Baitullah).

RAMADHAN, artinya:sangat panas. Bulan Ramadhan merupakan satu-satunya bulan yang tersebut dalam Al-Quran, satu bulan yang memiliki keutamaan, kesucian, dan aneka keistimewaan. Hal itu dikarenakan peristiwa-peristiwa penting seperti: Allah menurunkan ayat-ayat Al-Quran pertama kali, ada malam Lailatul Qadar, yakni malam yang sangat tinggi nilainya.

Karena para malaikat turun untuk memberkati orang-orang beriman yang sedang beribadah, bulan ini ditetapkan sebagai waktu ibadah puasa wajib. Pada bulan ini kaurn muslimin dapat menaklukan kaum musyrik dalam perang Badar Kubra dan pada bulan ini juga Nabi Muhammad saw berhasil mengambil alih kota Mekah dan mengakhiri penyembahan berhala yang dilakukan oleh kaum musyrik.

SYAWWAL, artinya:kebahagiaan. Maksudnya kembalinya manusia ke dalam fitrah (kesucian) karena usai menunaikan ibadah puasa dan membayar zakat serta saling bermaaf-maafan. Itulah yang membahagiakan.

DZULQAIDAH, berasal dari kata dzul (pemilik) dan qa’dah (duduk). Penamaan Dzulqaidah, karena bulan itu merupakan waktu istirahat bagi kaum laki-laki Arab dahulu. Mereka menikmatinya dengan duduk-duduk di rumah.

DZULHIJJAH artinya:yang menunaikan haji. Penamaan Dzulhijjah, sebab pada bulan ini umat Islam sejak Nabi Adam a.s. menunaikan ibadah haji.

sumber: eramuslim.com